MENGANCAM MOGOK MAIN


 Kamis,27 Juni 2012
MALANG - Tinggal menyisakan dua pertandingan terakhir di pentas Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, suasana kondusif tim Arema justru terganggu dengan rencana mogok latihan yang didengungkan para pemain.
Aksi ini disinyalir akibat kekecewaan M Ridhuan dkk yang tak kunjung menerima pelunasan gaji mereka padahal kompetisi sudah hampir berakhir.
Saat seharusnya sudah berangkat latihan pukul 14.00 WIB dari mes Wisma Unmer di Jalan Welirang, siang itu bus tim justru hanya diisi tim pelatih beserta supporting team. Tak ada satupun pemain yang ikut rombongan menuju Lapangan Paskhas Abdulrahman Saleh, Pakis tersebut.
Mayoritas pemain memilih meninggalkan mes mengendarai kendaraan pribadi masing-masing. Trio Kamerun, yaitu Herman Dzumafo, Seme Patrick dan Alain N'Kong berada satu mobil. Diikuti pemain-pemain lain seperti Hendro Siswanto, Alfarizi, Dendi Santoso hingga Charis Yulianto dan Sunarto yang naik sepeda motor sport masing-masing.  ‘’Seperti inilah. Kita tunggu manajemen saja,’’ ujar kapten tim, Dzumafo tanpa mau memberi keterangan lebih banyak saat ditemui Malang Post.
Sedangkan sebagian lainnya tetap berada di mes namun tidak menunjukkan gelagat akan berangkat latihan. Antara lain Khusnul Yuli, Agung Suprayogi, Ferry Aman Saragih, Munhar, Sutikno, Catur Pamungkas dan Yoewanto Stya Beny. ‘’Ini sudah kesepakatan bersama,’’ celethuk Yuli sambil duduk-duduk santai.
Akibatnya, tim pelatih yang dikomandani head coach Suharno serta didampingi manajer Sunavip Ra Indrata yang sudah tiba di Lapangan Paskhas sejak pukul 15.00 WIB hanya duduk-duduk saja sambil berdiskusi satu sama lain.
Setelah hampir satu jam menunggu, sekitar pukul 16.00 WIB satu persatu pemain datang ke lapangan. Rombongan yang berangkat dari mes seperti Khusnul Yuli dkk tiba lebih dulu.
Disusul kemudian pemain senior Khusnul Yuli hingga Achmad Kurniawan dan Kurnia Meiga. Steven Hesketh datang paling terlambat sekitar pukul 16.45 WIB.
Sedangkan yang tak kunjung menampakkan diri tinggal Dicky Firasat dan Arif Ariyanto yang tampaknya sudah izin kepada pelatih. Latihan pun kemudian berlangsung normal dan berakhir pukul 17.00 WIB.
Manajer media officer Arema, Sudarmaji menyebut insiden yang sempat mengganggu program latihan tersebut hanyalah problem komunikasi saja.
Terbukti pemain akhirnya kembali berlatih setelah pihak manajemen berdiskusi dan memberikan penjelasan. ‘’Ini hanya mis pemahaman saja. Alhamdulillah setelah diberi pemahaman, pemain akhirnya mengerti,’’ ungkap pria yang akrab dipanggil Darmaji itu sore kemarin.
Disinggung duduk permasalahan yang berawal dari tuntutan pemain terhadap manajemen untuk segera melunasi pembayaran gaji yang tertunggal, Darmaji mengaku manajemen sudah menjelaskan segalanya kepada Dzumafo dkk.
‘’Manajemen sangat memahami bahwa awak tim, mulai dari pelatih, official dan utamanya pemain perlu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena itulah manajemen terus berjuang memenuhi hak mereka,’’ kata Darmaji.
Diakui, memang ada keterlambatan pembayaran gaji. Untuk pemain yang sejak awal bergabung, terlambat dua bulan. Sedangkan pemain yang bergabung di putaran kedua, hanya telat satu bulan. ‘’Itupun gaji bulan Juni yang belum terbayar,’’ jelasnya.
Hanya saja, meski gaji telat, bukan lantas hak-hak lainnya tidak dipenuhi. Bahkan urusan bonus, bisa jadi bonus yang diberikan pemain, terbesar untuk ukuran bonus di Indonesia. Bonus itu, selalu diberikan usai pertandingan.
‘’Bonus menang di kandang, kisaran Rp 100 juta. Kalau away jelas lebih besar lagi. Bahkan di beberapa pertandingan, bonus kami berikan 1,5 kali. Belum lagi ada bonus-bonus kejutan. Seperti setiap gol kami hargai Rp 5 – 10 juta. Kalau penonton penuh, ada lagi bonus tambahan yang besarnya bisa Rp 10 juta,’’ papar pria asal Banyuwangi itu.
Bukan itu saja, ketika Arema kalah lawan Sriwijaya di Palembang beberapa waktu lalu, manajemen masih memberi bonus ekstra. Karena ketika itu dinilai pemain sudah berjuang maksimal. ‘’Memang tidak besar. Tapi mana ada tim yang kalah, masih diberi bonus,’’ sebutnya. 
Menyoal gaji yang terlambat itu, Darmaji mengakui hingga saat ini, manajemen masih menunggu pencairan dana dari sponsor. Apalagi kondisi tersebut, sudah jauh-jauh hari dikomunikasikan dengan pemain.
‘’Kita terus berkoordinasi dengan pihak sponsorship untuk berupaya menyelesaikan problem ini sebelum musim berakhir. Manajemen tidak pernah menutupi hal ini kepada pemain. Bahkan hari ini (kemarin, Red.), pemain baru saya menerima bonus kemenangan dan kekurangan gaji bulan Mei. Jadi tinggal gaji bulan Juni yang belum terbayar,’’ bebernya kepada Malang Post.
Disinggung soal kemungkinan adanya provokator yang mencoba merusak keharmonisan tim? Darmaji hanya tersenyum. ‘’Silahkan dinilai sendiri. Yang jelas, manajemen bersifat terbuka kepada pemain. Setiap hal, selalu kami komunikasikan. Kami tidak pernah menutupi apapun. Terutama soal dana. Kami bersifat transparan,’’ sebutnya. (tom) SUMBER MALANG POST

Arema Netnab

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.